kesehatan tagged posts

Mengalami Kolestasis saat Hamil? Inilah Gejala dan Cara Penanganannya

Kolestasis adalah istilah medis untuk menyebutkan gangguan pada saluran empedu. Beberapa kasus ini terjadi pada masa kehamilan yang bisa menimbulkan masalah lebih serius baik bagi ibu maupun calon bayi. Kondisi ini biasanya dikarenakan faktor penyakit tertentu pada organ hati dan gangguan di luar organ tersebut.

Saat seorang ibu hamil mengalami kondisi ini, maka bisa terjadi beberapa gejala yang cukup mengganggu. Untuk itu, perlu bagi Anda yang sedang berada dalam masa kehamilan mengetahui beberapa hal penting terkait apa itu kolestasis, gejalanya, dan cara penanganan yang tepat untuk kondisi tersebut.

1. Kolestasis Obstetri atau ICP

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kolestasis obstetri adalah gangguan saluran empedu yang akhirnya berpengaruh pada kondisi liver dan menyebabkan rasa gatal cukup parah. Kondisi ini dikenal juga dengan nama Intrahepatic Cholestasis Pregnancy (ICP) yang umumnya terjadi saat masa kehamilan tua.

Meski demikian, kondisi ini tidak begitu berbahaya bila mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Jadi, Anda pun tidak perlu cemas ketika mengalami gejala ICP di masa kehamilan menjelang tujuh bulan.

2. Gejala Kolestasis Obstetri

Secara umum, gangguan ICP ini ditandai dengan rasa gatal yang serius di seluruh tubuh. Kondisi ini muncul tanpa adanya ruam dan biasanya terjadi pada empat bulan di masa kehamilan tua atau empat bulan sebelum melahirkan. Pada beberapa wanita yang mengalaminya, kondisi tersebut tidak hanya disertai gatal parah tetapi juga beberapa gejala lain, di antaranya:

  • Urine berwarna keruh
  • Muncul gejala penyakit kuning
  • Feses berwarna pucat
  • Gatal semakin parah saat malam hari
  • Terasa gatal paling parah di bagian telapak tangan dan kaki.

3. Perawatan untuk Mengatasi ICP

Untuk menangani kondisi kolestasis tersebut, diharapkan setiap ibu hamil mengetahuinya agar bisa diatasi sejak dini. Dokter terlebih dahulu akan melakukan analisis pada gejala yang dirasakan. Misalnya, dokter melakukan tes darah untuk menguji fungsi hati serta menjalani beberapa tes liver untuk memastikan diagnosisnya.

Bila sudah terbukti mengalami kolestasis, maka dokter biasanya akan memberikan obat atau semacamnya untuk mengurangi hambatan cairan empedu. Selain itu, dokter juga wajib melakukan pemeriksaan secara rutin untuk melihat kondisi bayi dalam kandungan yang mungkin mengalami risiko akibat kondisi ICP yang dialami sang ibu.

Pemantauan ini untuk menjamin kondisi bayi tidak mengalami gangguan kerusakan hati sebagai akibat serius dari kondisi kolestasis obstetri tersebut.

4. Pencegahan Sebelum Kehamilan

Tidak ada salahnya bagi Anda untuk melakukan pencegahan agar tidak mengalami gangguan ICP ini. Anda bisa mulai menggunakan pelembap secara rutin untuk melindungi kulit, menggunakan krim seperti calamine untuk membantu mengatasi rasa gatal, menghindari dehidrasi kulit, dan sebagainya. Dengan mengetahui gejala dan cara penanganan yang tepat, diharapkan penyakit atau gangguan ini bisa diatasi sedini mungkin agar tidak menimbulkan bahaya kehamilan.

Wanita vs. Pria, Siapa yang Lebih Sehat?

Ada sebuah penelitian yang dilakukan di Skotlandia beberapa tahun lalu. Para wanita dan pria setempat menjadi responden dan mengikuti survei yang bertujuan mengetahui tingkat kesehatan mereka.

Penelitian ini meliputi penyakit jantung, penyakit mental, dan stamina tubuh. Intinya, penelitian dilakukan untuk melihat kesehatan para peserta. Dari kedua kelompok, diketahui bahwa wanita pada umumnya hidup lebih lama atau berumur panjang ketimbang pria. Namun, siapakah yang lebih sehat?

Pola Penelitian Kesehatan

Sejumlah kuesioner dikirimkan kepada lebih dari 300 pria dan wanita di 2 kota. Mereka mendapatkan berbagai pertanyaan tentang kondisi kesehatan. Kedua kelompok ini sama-sama yakin memiliki kondisi yang sehat. Mayoritas responden pun menilai, baik pria maupun wanita, berpotensi sehat atau malah mengalami sakit.

Meski demikian, pria dianggap lebih rentan mengalami kecelakaan. Sementara itu wanita dianggap lebih berisiko terkena penyakit kanker dan penyakit mental.

Hasil Survey Kesehatan Antara Pria dan Wanita

Kedua kelompok, pria dan wanita, memiliki pendapat yang berbeda. Berikut ini adalah hasil temuan survei yang perlu Anda ketahui:

1. Kecelakaan

Sebanyak 48% peserta pria mengatakan pria lebih cenderung mengalami kecelakaan. Keyakinan itu juga diungkapkan oleh 37% wanita. Namun, 58% wanita mengatakan, pria dan wanita sama-sama cenderung mengalami kecelakaan.

2. Kanker

Sekitar dua pertiga dari peserta mengatakan, pria dan wanita, sama-sama cenderung terkena kanker. Namun, 12% pria mengatakan pria lebih mungkin terkena kanker. Sisanya, lebih banyak wanita (30%) dibandingkan pria (24%) mengatakan wanita lebih cenderung memiliki kanker. Pada 2018, diperkirakan akan ada 1.735.350 kasus kanker baru didiagnosis dan 609.640 kematian akibat kanker di Amerika Serikat.

3. Penyakit Jantung

Mayoritas kedua kelompok peserta, sebanyak 79% pria dan 59% wanita mengatakan pria lebih mungkin terserang penyakit jantung. Sementara itu, 19% wanita mengatakan kedua kelompok sama-sama berisiko.  Pria yang berusia kurang dari 50 tahun, lebih mungkin terkena serangan jantung. Namuni, pada wanita setelah periode menopause, risiko penyakit jantung akan meningkat.

4. Kebugaran

Dalam hal kebugaran, pria berpikir lebih unggul dari wanita. Begitu pula sebaliknya.

5. Penyakit mental

Penyakit mental lebih mungkin terjadi pada wanita. Angkanya mencapai 31% wanita dan 18% pria. Di antara pria, 72% menyebutkan penyakit mental memiliki kemungkinan yang sama di antara kedua kelompok. Selebihnya, ada 61% wanita mengatakan pria lebih mungkin terkena penyakit mental. Sementara itu, penyakit mental adalah penyakit yang paling umum melanda wanita. Kecemasan dan depresi adalah dua di antaranya.

Siapa yang benar?

Menurut para peneliti, respons dari para peserta sangat baik. Hampir keseluruhan peserta mengisi kuesioner yang diberikan untuk mendukung studi berbasis populasi. Meski demikian, masih ada bias antara pengalaman kesehatan, pemikiran positif dan negatif para responden, serta kecenderungan perbedaan jenis kelamin yang menentukan perbedaan hasil studi. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hasil kesehatan antara pria dan wanita tersebut.