kesehatan kulit tagged posts

Penyebab Penyakit Psioriasis Vulgaris, Autoimun Salah Satunya

ODEPA atau orang dengan psoriasis jumlahnya mencapai 1-3% di Indonesia pada tahun 2016.

Terdapat beberapa jenis psoriasis, salah satunya psoriasis vulgaris. Jenis ini paling banyak dialami dibandingkan jenis lainnya.

Psoriasis vulgaris atau psoriasis plak menyerang sel kulit sehingga menimbulkan bercak merah bersisik pada kulit. Biasanya terletak pada bagian siku, lutut, dan kulit kepala.

Penyakit ini tidak bisa disembuhkan karena penyebabnya bukan dari luar, melainkan berasal dari tubuh penderitanya sendiri.

Autoimun

Pada dasarnya, para ahli belum bisa menentukan secara pasti penyebab penyakit ini. Namun, beberapa sumber menyebutkan salah satu kemungkinan penyebabnya adalah kondisi autoimun.

Pada kondisi normal, antibodi  berfungsi melawan kuman, penyakit, atau organisme asing yang masuk ke dalam tubuh. Namun, dalam kondisi autoimun, antibodi justru merusak jaringan tubuhnya sendiri karena dianggap sebagai organisme asing.

Sel darah putih limfosit T pada penderita psoriasis vulgaris memproduksi sel kulit secara cepat. Jika orang normal meregenerasi kulit selama sekitar 28 hari, penderita penyakit ini melakukan regenerasi hanya sekitar 3-7 hari. Akibat kelainan tersebut, kulit pun membentuk sisik, kasar, dan timbul inflamasi.

Sumber makanan tinggi lemak, tinggi gula, dan sumber pangan olahan mendukung proses inflamasi di tubuh. Makanan dan minuman tinggi antioksidan mampu membantu mengurangi inflamasi. 

Sebanyak 85% autoimun dialami oleh perempuan. Penyebabnya adalah perubahan hormon yang lebih banyak dialami perempuan dibandingkan laki-laki. Perempuan mengalami perbedaan hormon ketika beranjak remaja, melahirkan, menyusui, dan masa menopause.

Meningkatnya hormon estrogen pada perempuan memperbaiki sel T sehingga meredakan kondisi autoimun, sedangkan penurunannya mendukung autoimun untuk lebih berkembang.

Hereditas / Keturunan

Sebanyak 10% orang lahir dengan gen bawaan, tapi hanya 3% diantaranya yang benar-benar terjangkit. Artinya, faktor keturunan bukanlah penentu utama.

Sumber lain menyebutkan bahwa, jika penderita berusia di bawah 20 tahun, kemungkinan penyakit ini disebabkan riwayat keluarga.

Apabila telah terdiagnosis, penderita sebaiknya menjaga kulit dari penyebab lain yang bisa memperparah kedaan. Diantaranya seperti:

  1. Stres

Ruam dan bercak sisik di kulit bisa menjadi semakin meradang dan perih  saat stres. Faktor stres menjadi penyebab terbesar yang memperburuk lesi atau luka, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

Krisis kepercayaan diri bisa juga menjadi pemicu stres, baik dalam sosial, pekerjaan, pasangan, maupun pendidikan. Sebanyak 98% penderita mengaku mengalami perubahan mood dan emosi setelah mendapatkan diagnosa. Terlebih menghadapi fakta bahwa penyakit ini merupakan penyakit yang bersifat jangka panjang.

Dukungan orang-orang terdekat sangat diharapkan, terutama keluarga. Informasi mengenai penyakit ini juga harus diberikan sebaik mungkin kepada orang sekitar. Harusnya ada penjelasan bahwa penyakit ini bukanlah penyakit menular.  

  • Cuaca

Kurangnya sinar matahari, rendahnya kelembaban, udara dalam ruangan panas dan kering menyebabkan lesi mudah kambuh. Lesi akan kembali normal jika terkena sinar matahari hangat dan udara dengan kelembaban cukup.

  • Alkohol dan alergi makanan

Walaupun faktor ini jarang terjadi, penderita harus tetap menjaga pola makan dengan baik termasuk menjauhi alkohol dan mengetahui riwayat alergi yang pernah diderita. Alergi bisa saja baru dirasakan ketika telah menginjak dewasa.

  • Faktor luar

Faktorini meliputi kulit terbakar matahari, sengatan lebah, garukan kuku, gesekan benda, atau vaksinasi. Hal itu bisa memperparah kondisi kulit karena meningkatkan inflamasi.

Pemberian vaksin dapat menyebabkan respon Koebner yaitu respon kulit setelah diinjeksi jarum vaksin sehingga mengalami lesi atau luka. Awalnya area suntikan merupakan kulit normal tanpa luka, namun pemberian vaksin justru menimbulkan lesi baru di area tersebut.

Lesi biasanya muncul setelah 7-14 hari setelah penyuntikan. Vaksinasi sebaiknya dilakukan setelah mendapatkan rekomendasi dari dokter.

Pahami baik-baik penyebab psoriasis vulgaris untuk menghidari semakin bertambahnya lesi dan kejadian kambuh sewaktu-waktu.