Category Kesehatan

Terbukti Secara Ilmiah, Inilah Manfaat Lemon Bagi Kesehatan

Lemon memiliki kandungan vitamin C yang berguna bagi kesehatan manusia.

Lemon sangat populer digunakan orang sebagai penambah rasa, baik pada minuman maupun makanan. Kemampuan lemon dalam memperkaya rasa, membuat buah yang satu ini sering digunakan pada kue, saus, dressing untuk salad, serta pelengkap minuman, seperti campuran lemon dengan teh. Jarang sekali orang yang mengonsumsi lemon secara tunggal karena rasanya yang asam. Padahal, manfaat lemon bagi kesehatan banyak sekali, khususnya bila dikonsumsi tanpa terlalu banyak campuran lain. 

Bagi sebagian orang rasa lemon yang asam, kurang bisa diterima oleh lidah. Sementara bagi beberapa orang lain, rasa asam tersebut justru sangat menyegarkan. Terlepas dari pro dan kontra terkait rasanya, satu hal yang pasti, lemon merupakan sumber vitamin C yang bermanfaat bagi tubuh. Sekitar 58 gram lemon mengandung kurang lebih 30 mg vitamin C. 

Kebutuhan tubuh akan vitamin C tentu sudah tidak menjadi perdebatan. Vitamin yang satu ini merupakan komponen esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Kekurangan vitamin C dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang serius. Karena pengetahuan ini, bahkan dulu para pelayar selalu membawa lemon dalam perjalanan mereka demi menghindari kekurangan vitamin C.

Manfaat lemon bagi kesehatan

Nah, jadi apa saja sebetulnya manfaat lemon bagi kesehatan tubuh? Berikut ini manfaat lemon bagi kesehatan tubuh yang telah terbukti secara ilmiah.

1. Membantu menjaga kesehatan jantung

Telah disebutkan sebelumnya, lemon merupakan sumber vitamin C. 30 mg vitamin C yang terkandung di dalam 58 gram lemon sudah memenuhi 40% anjuran konsumsi vitamin C. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi, orang dewasa di atas usia 18 tahun, membutuhkan 75-90 mg vitamin C setiap harinya. 

Riset menunjukkan bahwa konsumsi buah atau sayur yang kaya akan vitamin C dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung dan stroke. Oleh sebab itu, konsumsi lemon dapat turut membantu menjaga kesehatan jantung Anda.

Di dalam lemon, bukan hanya vitamin C yang berperan dalam menjaga kesehatan jantung, kandungan serat serta senyawa tumbuhan, yaitu hesperidin, serta diosmin, juga turut membantu menjaga kesehatan jantung. Dalam sebuah penelitian, mengonsumsi 24 gram serat dan senyawa tumbuhan, dari ekstrak varian buah citrus, termasuk lemon, dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Seperti diketahui, dalam kolesterol salah satu komponen yang bertanggung jawab memicu penyakit jantung dan pembuluh darah. 

2. Membantu mengontrol berat badan

Menurunkan berat badan merupakan salah satu manfaat lemon yang sering dibicarakan orang. Terdapat beberapa teori yang mendukung hal tersebut. Salah satunya, lemon mengandung serat larut air, yaitu pektin. Di dalam saluran pencernaan pektin dapat ‘mengembang’ dan memberikan sensasi rasa kenyang lebih lama. Sehingga Anda tidak akan makan terlalu banyak. 

Dengan demikian, Anda perlu mengonsumsi buah lemon secara utuh. Hanya mengonsumsi air lemon menghilangkan manfaat lemon yang satu ini, sebab air perasan lemon tidak mengandung pectin.

3. Mencegah terbentuknya batu ginjal

Batu ginjal terbentuk dari sisa metabolisme yang mengkristal di ginjal. Asam sitrat diketahui dapat mencegah terbentuknya batu ginjal dengan meningkatkan jumlah urin dan meningkatkan pH, sehingga memperkecil kemungkinan terbentuknya batu ginjal. 

Asupan asam sitrat salah satunya dapat Anda peroleh dari buah lemon. Sekitar 125 ml air lemon sudah memberikan jumlah asam sitrat yang cukup bagi tubuh agar mencegah terbentuknya batu ginjal. 

Sayangnya, manfaat lemon yang satu ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Sebab beberapa penelitian menunjukkan pengaruh lemon terhadap pencegahan terjadinya batu ginjal, sebagian tidak menunjukkan efektivitas. Sehingga konfirmasi melalui penelitian lanjutan diperlukan. 

Meskipun manfaat lemon sudah tidak diragukan lagi, Anda tetap perlu berhati-hati saat mengonsumsi buah yang satu ini. Terutama bagi Anda yang memiliki masalah GERD atau sariawan, sebab asam yang tinggi di dalam lemon dapat memberikan efek kurang baik untuk penyakit yang Anda derita.

Mengapa Mencapai Berat Bayi Normal 3 Bulan Penting

Bayi dapat lahir dalam berbagai bentuk dan ukuran. Berat badan pun dapat berbeda antara bayi yang satu dengan yang lain. Rata-rata berat bayi yang baru lahir adalah 3.4 kg, dengan berat bayi normal 3 bulan sekitar 5.9 hingga 6.4 kg. Saat bayi mulai tumbuh dan berkembang, angka pertambahan berat badan mereka akan menjadi indikasi yang penting terhadap kesehatan dan perkembangan secara keseluruhan. Dokter bayi Anda akan mengawasi berat, panjang, dan ukuran kepala bayi untuk memastikan apakah bayi tumbuh dan berkembang sebagai mana dengan mestinya.

Berat bayi bertambah? Apa yang perlu diketahui dan diwaspadai

Banyak penelitian menunjukkan bayi yang sehat biasanya akan kehilangan beberapa berat badan mereka beberapa hari setelah lahir. Hal ini dikarenakan mereka lahir dengan cairan yang lebih. Setelah lahir, bayi akan menghilangkan cairan berlebih tersebut dengan cepat. Setelah itu, berat badan bayi akan bertambah. Berat badan yang hilang sebelumnya akan kembali hanya dalam waktu 2 minggu. Banyak penelitian juga menunjukkan pertambahan berat badan dengan cepat merupakan hal yang wajar. Sebelum perkembangan dimulai, bayi mungkin akan rewel dan sering minum ASI. Bayi juga akan sering tidur dibandingkan dengan biasanya. Bayi laki-laki biasanya akan mendapatkan tambahan berat badan lebih dibandingkan berat badan bayi perempuan. Pantau terus berat badan bayi Anda, jangan sampai bayi memiliki berat badan berlebih karena dapat menyebabkan beberapa risiko kesehatan. Untuk tahu berat bayi normal 3 bulan, 6 bulan, atau berapa pun umur bayi Anda, konsultasi dengan dokter bayi.

Berat badan bertambah apa perlu dikhawatirkan?

Apabila Anda memiliki diabetes, ada kemungkinan Anda akan memiliki bayi yang lebih besar. Bayi dengan berat yang lebih besar dibanding rata-rata mungkin akan membutuhkan perawatan medis untuk memastikan kadar gula darah mereka berada di angka yang normal. Bayi juga akan memiliki berat badan lebih tinggi dari rata-rata terutama apabila berat badan Anda meningkat sebelum masa kelahiran. Hal ini merupakan satu dari banyak alasan mengapa menjaga diet yang sehat penting untuk dilakukan terutama saat Anda hamil.

Di Amerika Serikat sendiri, ibu hamil sangat direkomendasikan untuk meningkatkan berat badan sekitar 11 hingga 13 kg saat hamil. Dokter mungkin akan merekomendasikan angka yang lebih tinggi tergantung dengan berat dan kesehatan Anda sebelum hamil. Selalu ikuti rekomendasi dari dokter.

Peningkatan berat badan bayi pada 6 hingga 12 bulan setelah kelahiran biasanya tidak perlu menyebabkan kekhawatiran. Bayi yang mendapatkan ASI akan memiliki berat badan yang meningkat pada 6 bulan pertama mereka, kemudian akan bertambah secara perlahan setelahnya. Dalam beberapa kasus, bayi yang memiliki berat badan lebih tinggi dari rata-rata akanmulai  merangkak dan berjalan dengan terlambat dibandingkan dengan bayi lainnya. Pastikan Anda terus menjaga bayi agar tetap memiliki berat badan yang normal dan sehat hingga mereka mulai mengonsumsi makanan-makanan keras selain ASI. Dengan melakukan cara tersebut, Anda akan dapat menjaga berat bayi normal 3 bulan dan seterusnya. Bicarakan dengan dokter apabila Anda khawatir dengan kondisi kesehatan atau angka berat badan mereka.

Apabila Anda khawatir bayi tidak memiliki berat bayi normal 3 bulan, bicarakan dengan dokter. Mereka akan menunjukkan angka tumbuh kembang bayi Anda. Apabila bayi kesulitan menambah berat badan karena asupan ASI Anda kurang, dokter akan merekomendasikan formula bayi. Rekomendasi untuk makan makanan pendamping ASI seperti bubur harus menunggu hingga bayi berusia 6 bulan.

Tips Kesehatan Untuk Pria Berusia 40-50 Tahun untuk Tampil Bugar Setiap Saat

Usia 40-50 tahun bagi pria maupun wanita merupakan usia yang rentan terhadap beberapa jenis penyakit. Sebagian besar di antaranya merupakan penyakit serius, seperti jantung koroner, kolesterol tinggi, diabetes, hingga hipertensi. Maka dari itu, bagi pria yang berada di usia tersebut disarankan untuk menjaga kesehatan dengan baik. Berikut ini tips menjaga kesehatan bagi pria yang berusia 40-50 tahunan.

Jangan Remehkan Saran Dokter

Pria dalam rentang usia 40-50 tahun yang terbilang matang, justru lebih sering menyepelekan saran dari dokter. Misalnya, melakukan pemeriksaan rutin minimal setahun sekali. Begitu juga dengan saran menghindari pola makan buruk atau pola hidup tidak sehat. Segala nasihat dokter tersebut kadang hanya dianggap angin lalu.

Kelola Stres dengan Baik

Kunci utama penyakit berasal dari pola pikir seseorang. Ketika mengalami stres berlebihan, orang cenderung melampiaskannya pada perubahan gaya hidup atau menikmati pola makan tidak sehat. Ini yang banyak dialami oleh pria berusia 40-50 tahun.

Pada usia tersebut, pria akan merasakan stres dengan berbagai alasan, mulai dari pekerjaan, finansial, asmara, atau keluarga. Berada di situasi yang penuh dengan problematika semacam itu membuat para pria mengalami tekanan hingga stres.

Stres yang berlebihan bisa memicu tekanan darah menjadi naik, munculnya gangguan pencernaan, hati, bahkan serangan jantung. Cobalah untuk mengelola stres dengan mengetahui penyebab stres tersebut dan mencoba mengurangi tingkat stres dengan cara yang tepat. Misalnya melakukan meditasi, liburan, atau menekuni olahraga tertentu. Selain bertujuan membantu mengurangi kadar stres, aktivitas positif juga membuat badan kembali bugar.

Melakukan Cek Up Rutin

Cek up rutin yang disarankan adalah minimal setahun sekali. Dengan melakukan cek up rutin, setidaknya anda mengantisipasi kemungkinan penyakit yang bisa mengancam. Beberapa pria dengan usia 40-50 tahun rata-rata memiliki penumpukkan lemak berlebihan dalam tubuh mereka. Penumpukkan lemak ini yang nantinya akan memicu serangan penyakit berbahaya dan harus diatasi segera. Cobalah mengonsumsi makanan sehat dan melakukan banyak gerakan ringan untuk membantu proses pembakaran lemak pada tubuh agar tetap tampak prima.

Latihan Keseimbangan

Tahukah Anda bahwa sebanyak 70% pria berusia 40 tahun ke atas rentan mengalami otot dan persendian kaku. Masalah tersebut mengakibatkan aktifitas fisik terganggu. Spesialis bedah ortopedi dari University of Pittsburgh, Dr. Vonda Wright, menganjurkan untuk melakukan latihan kelenturan dan keseimbangan bagi pria dengan usia tersebut. Latihan atau gerakan yang dilakukan tidak dituntut berat, namun tetap mempertimbangkan strategi olahraga yang tepat. Itulah beberapa tips kesehatan pria berusia 40-50 tahun yang harus diterapkan guna menjaga kesehatan tubuh secara maksimal. Harus disadari bahwa usia yang sudah tidak muda lagi mengakibatkan kondisi tubuh akan menurun sehingga dibutuhkan perhatian khusus serta persiapan matang untuk menghadapi usia matang tersebut.

Wanita vs. Pria, Siapa yang Lebih Sehat?

Ada sebuah penelitian yang dilakukan di Skotlandia beberapa tahun lalu. Para wanita dan pria setempat menjadi responden dan mengikuti survei yang bertujuan mengetahui tingkat kesehatan mereka.

Penelitian ini meliputi penyakit jantung, penyakit mental, dan stamina tubuh. Intinya, penelitian dilakukan untuk melihat kesehatan para peserta. Dari kedua kelompok, diketahui bahwa wanita pada umumnya hidup lebih lama atau berumur panjang ketimbang pria. Namun, siapakah yang lebih sehat?

Pola Penelitian Kesehatan

Sejumlah kuesioner dikirimkan kepada lebih dari 300 pria dan wanita di 2 kota. Mereka mendapatkan berbagai pertanyaan tentang kondisi kesehatan. Kedua kelompok ini sama-sama yakin memiliki kondisi yang sehat. Mayoritas responden pun menilai, baik pria maupun wanita, berpotensi sehat atau malah mengalami sakit.

Meski demikian, pria dianggap lebih rentan mengalami kecelakaan. Sementara itu wanita dianggap lebih berisiko terkena penyakit kanker dan penyakit mental.

Hasil Survey Kesehatan Antara Pria dan Wanita

Kedua kelompok, pria dan wanita, memiliki pendapat yang berbeda. Berikut ini adalah hasil temuan survei yang perlu Anda ketahui:

1. Kecelakaan

Sebanyak 48% peserta pria mengatakan pria lebih cenderung mengalami kecelakaan. Keyakinan itu juga diungkapkan oleh 37% wanita. Namun, 58% wanita mengatakan, pria dan wanita sama-sama cenderung mengalami kecelakaan.

2. Kanker

Sekitar dua pertiga dari peserta mengatakan, pria dan wanita, sama-sama cenderung terkena kanker. Namun, 12% pria mengatakan pria lebih mungkin terkena kanker. Sisanya, lebih banyak wanita (30%) dibandingkan pria (24%) mengatakan wanita lebih cenderung memiliki kanker. Pada 2018, diperkirakan akan ada 1.735.350 kasus kanker baru didiagnosis dan 609.640 kematian akibat kanker di Amerika Serikat.

3. Penyakit Jantung

Mayoritas kedua kelompok peserta, sebanyak 79% pria dan 59% wanita mengatakan pria lebih mungkin terserang penyakit jantung. Sementara itu, 19% wanita mengatakan kedua kelompok sama-sama berisiko.  Pria yang berusia kurang dari 50 tahun, lebih mungkin terkena serangan jantung. Namuni, pada wanita setelah periode menopause, risiko penyakit jantung akan meningkat.

4. Kebugaran

Dalam hal kebugaran, pria berpikir lebih unggul dari wanita. Begitu pula sebaliknya.

5. Penyakit mental

Penyakit mental lebih mungkin terjadi pada wanita. Angkanya mencapai 31% wanita dan 18% pria. Di antara pria, 72% menyebutkan penyakit mental memiliki kemungkinan yang sama di antara kedua kelompok. Selebihnya, ada 61% wanita mengatakan pria lebih mungkin terkena penyakit mental. Sementara itu, penyakit mental adalah penyakit yang paling umum melanda wanita. Kecemasan dan depresi adalah dua di antaranya.

Siapa yang benar?

Menurut para peneliti, respons dari para peserta sangat baik. Hampir keseluruhan peserta mengisi kuesioner yang diberikan untuk mendukung studi berbasis populasi. Meski demikian, masih ada bias antara pengalaman kesehatan, pemikiran positif dan negatif para responden, serta kecenderungan perbedaan jenis kelamin yang menentukan perbedaan hasil studi. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hasil kesehatan antara pria dan wanita tersebut.